Pondok Pesantren Modern Al-Muttaqien Balikpapan menjadi salah satu tujuan kegiatan Nyekar Muassis NU Kota Balikpapan yang diselenggarakan oleh Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) bersama IKSASS pada Ahad, 18 Oktober 2026.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026 ini mengusung semangat “Merawat Jejak Perjuangan Nyekar Muassis NU Kota Balikpapan.” Rangkaian ziarah tersebut menjadi momentum untuk mengenang jasa, meneladani perjuangan, serta mendoakan para pendiri dan tokoh Nahdlatul Ulama di Kota Balikpapan yang telah wafat.
Salah satu makam yang diziarahi adalah makam KH. Muhammad Anas Mochtar, ulama kharismatik yang dikenal sebagai Guru Anas, tokoh Nahdlatul Ulama, serta pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Modern Al-Muttaqien Balikpapan.
KH. Muhammad Anas Mochtar lahir di Jombang pada 13 Juni 1945 dan wafat di Balikpapan pada 24 Mei 2017. Semasa hidupnya, beliau memiliki kiprah besar dalam pengembangan dakwah dan pendidikan Islam. Dalam organisasi Nahdlatul Ulama, beliau pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Kota Balikpapan periode 2007–2012, kemudian menjadi Mustasyar PCNU Balikpapan dan salah satu Rais Syuriyah PWNU Kalimantan Timur hingga akhir hayatnya. Beliau juga aktif dalam kepengurusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Balikpapan.
Jejak perjuangan Guru Anas tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya Pondok Pesantren Modern Al-Muttaqien. Bersama sejumlah tokoh perintis lainnya, beliau mengawali ikhtiar pendidikan Islam di kawasan Gunung Guntur melalui pendirian Langgar Al-Muhajirin pada 1985. Perjuangan tersebut kemudian berkembang hingga berdirinya Pondok Pesantren Modern Al-Muttaqien, yang terus menjalankan peran pendidikan, dakwah, dan pembinaan generasi muda.
Ziarah ke makam para muassis NU bukan sekadar mengenang sosok yang telah mendahului, melainkan juga menjadi pengingat akan besarnya perjuangan para ulama dalam membangun jam’iyah, mengembangkan pendidikan Islam, dan membimbing masyarakat. Nilai keikhlasan, keteguhan dalam berkhidmah, serta kepedulian terhadap umat merupakan warisan yang patut terus dirawat oleh generasi penerus.
Bagi keluarga besar Pondok Pesantren Modern Al-Muttaqien, kunjungan ini memiliki makna tersendiri. Makam Guru Anas yang berada di kompleks pesantren menjadi pengingat bahwa lembaga pendidikan ini tumbuh dari perjuangan para ulama dan tokoh masyarakat yang mencurahkan tenaga, pikiran, serta pengabdian untuk umat.
Melalui kegiatan Nyekar Muassis NU Kota Balikpapan, diharapkan generasi penerus Nahdlatul Ulama semakin mengenal sejarah perjuangan para pendahulunya, menjaga tradisi ziarah dan doa, serta melanjutkan khidmah melalui pendidikan, dakwah, seni, budaya, dan pengabdian sosial.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah para muassis dan ulama yang telah wafat, melimpahkan rahmat serta ampunan kepada mereka, dan menjadikan perjuangan yang telah diwariskan sebagai inspirasi bagi generasi penerus. [[]









