BALIKPAPAN – Tepat satu tahun sudah Kota Balikpapan kehilangan sosok ulama kharismatik, KH Mohammad Anas Mochtar. Ulama yang wafat pada 24 Mei 2017 atau 27 Sya’ban 1438 H pukul 00.30 Wita ini dikenal tegas dan keras dalam memperjuangkan kebenaran. Semasa hidupnya, beliau aktif menjaga moral masyarakat, mulai dari penutupan lokalisasi KM 17 hingga penegakan nilai-nilai keislaman di Kota Balikpapan.
KH Mohammad Anas Mochtar lahir di Magetan, 13 Juni 1945. Ia dikenal sebagai ulama yang khidmat mengabdikan diri di Balikpapan. Beliau memimpin Pondok Pesantren Modern Al-Muttaqien di kawasan Gunung Guntur, sekaligus menjabat Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Balikpapan dan Rais Syuriah Nahdlatul Ulama (NU) Balikpapan.
Dalam kiprahnya, Kiai Anas sempat menjabat Ketua Komisi Fatwa MUI Balikpapan. Sosoknya menjadi rujukan utama dalam penentuan fatwa sekaligus solusi atas berbagai persoalan umat di kota ini.
Sikap tegas beliau sering mendukung kebijakan pemerintah yang menyangkut kemaslahatan umat. Sebagai pemimpin pesantren, beliau juga konsisten menanamkan kedisiplinan dan akhlak mulia kepada para santrinya.
“Beliau yakin bahwa Allah akan memberikan jalan terbaik bagi umat yang berjuang dan rajin menolong sesama,” kenang salah satu pengurus MUI Balikpapan.
Kini, perjuangan yang beliau rintis di Pondok Pesantren Modern Al-Muttaqien terus berlanjut. Pesantren yang berdiri sejak 1985 itu menaungi berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Raudlatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, hingga SMK Nahdlatul Ulama.
Bagi keluarga besar, santri, dan masyarakat Balikpapan, KH Mohammad Anas Mochtar akan selalu dikenang sebagai sosok yang tegas, berakhlak mulia, dan tulus mengabdi untuk umat. []


Sumber : Koran BalikpapanPos







